Selasa, 05 Februari 2013

''TIGA PINTU BAHAGIA''

REPUBLIKA.CO.ID,
 Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung MA




Kebahagiaan (as-sa’adah) adalah harapan meski dipahami berbeda oleh setiap insan sesuai keyakinan dan pemahaman hidupnya. Karena itu, jalan yang ditempuh untuk meraihnya pun berbeda pula.
Kebahagian harus dicari dan diusahakan, tidak datang dengan sendirinya (QS.28:77).

Makna kebahagiaan seorang Muslim adalah pencapaian dunia dan akhirat, material dan spritual, individual dan sosial, emosional dan intlektual. Sebuah kebahagiaan yang utuh (integrated) dan menyeluruh (komprehensif).

Mahatma Gandhi pernah mengatakan .”Happiness is when what you think, what you say and what you do are in harmony”.(Kebahagian adalah ketika apa yang Anda pikirkan, katakan dan lakukan terdapat kesesuaian).
 
Imam Al-Gazali  membagi kesenangan manusia itu pada dua tingkatan yakni lazaat yaitu kepuasan (lezat) dan sa’adah (kebahagiaan). Yang pertama lebih pada aspek indrawi dan sesaat (material) sedangkan yang kedua pada aspek batini (rasa dan langgeng).

Puncak tertinggi dari kepuasan dan kebahagiaan manusia adalah ma’rifatullah yakni mengenal Allah. Kebahagiaan itu bergerak dalam ranah kalbu (rasa), tapi ekspresinya kongkrit berupa keceriaan, keindahan, kelapangan, ketaatan dan kemanfaatan hidup. 

Hati manusia adalah tempat berlabuhnya sifat ilahiyyah, maka setiap kata, sikap dan perilaku yang bersesuaian (yang tergambar dalam asma al-husna) akan menentramkan. Sebaliknya, segala yang bertentangan dengannya akan merisaukan. (QS.91:8-10),

Dalam sebuah Riwayat, Nabi saw berpesan : “Kebahagiaan manusia itu ada tiga dan deritanya pun ada tiga. Kebahagiaan itu adalah istri yang shalehah, rumah yang bagus dan kendaraan yang baik. Sedangkan derita manusia yaitu : istri yang jahat, rumah yang buruk dan kendaraan yang jelek”. (Hadits Riwayat. Ahmad dari Sa’ad bin Abi Waqash ra).

Pertama ; Istri shalehah (al-mar’atush shalihah).  Ia adalah jalan mendapatkan anak yang saleh dan rumah yang nyaman (keluarga sakinah).  Kriteria kesalehan istri adalah menyenangkan jika dipandang, merasa nyaman jika ditinggalkan, menjaga kehormatan, harta dan patuh jika diperintahkan (HR. Al-Hakim dan An-Nasai).

Agama menuntun agar menikah karena agamanya, bukan karena kecantikan dan hartanya sebab akan membuatnya binasa dan durhaka (sombong). “Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah istri salehah”.  (Hadits Riwayat Muslim dari Abdullah bin Umar). 

Kedua ; Rumah yang bagus (al-maskanush shalih).  Dalam riwayat lain dijelaskan dengan “rumah besar yang banyak didatangi tamu” (ad-daru takuunu waasi’atan katsiroh al-marofiqi).

Rumah tidak hanya tempat berteduh dari panasnya terik matahari dan dinginnya udara malam serta melepaskan lelah. Tapi ia juga tempat  membangun kehidupan keluarga dan  pemimpin umat masa depan.

Rumah adalah tempat menyusun strategi perjuangan dakwah dan sumber inspirasi meraih kesuksesan. Baitii jannatii (rumahku adalah surgaku). Demikian Nabi saw.

Secara fisik, rumah yang bagus adalah besar, lega, bersih dan indah dengan pekarangan  tertata rapi. Tapi, secara sosial ia terbuka menerima tamu (silaturrahim) terutama orang-orang lemah (dhuafa dan mustad’afin).

Secara spritual ia menjadi tempat dilantunkan ayat suci Al-Qur’an, mengkaji dan mengajarkannya kepada anak-anak (madrasah), ditegakkan shalat dan untuk taqarrub kepada Allah.  

Ketiga ; Kenderaan yang baik (al-markabush shalih).  Kendaraan adalah simbol status sosial, mobilitas dan interaksi sosial dalam mencari keberuntungan hidup. Kendaraan adalah alat untuk mencapai tujuan dengan cepat, mudah, aman dan nyaman.

Jika kita menempuh perjalanan dengan kendaraan yang bagus, ber-AC, harum dan cepat, maka perjalanan akan mudah dan menyenangkan. Ketika panas terik tak berkeringat, ketika hujan tak kebasahan, takkala angin kencang tak terhempaskan.  


Tapi, jangan lupa kendaraan juga harus bermafaat dalam membangun umat, menolong sesama dan mempermudah jalan dakwah. Ketiga pintu kebahagiaan tersebut merupakan satu rangkaian yang tak terpisahkan. Jika salah satunya tiada, yang lain tak bermakna. 

Kita mesti sadari, ketiga hal tersebut bukan tujuan hidup, tapi hanya sarana untuk meraih kebahagiaan hakiki, yakni berjumpa dengan Allah kelak di surga.  

Jika ketiga hal itu sebagai faktor eksternal, maka kebahagiaan harus ditopang dengan kualitas internal yakni dikokohkan dengan pondasi keimanan, buka pintunya dengan kunci keikhlasan, hiasi dengan pengharum kesyukuran.

Selain itu, pagari dengan tembok kesabaran, isi dengan mebeler ilmu pengetahuan dan selalu bersihkan dengan sapu ketauhidanAllahu a’lam bish-shawab.



Wahai Generasi Islam.....
selagi di dunia,
milikilah cita-cita mulia, upayakan sekuat kemampuan 
dengan ikhtiar dan doa.
Ketika Allah menyampaikan harapan....
ingatlah bahwa itu bukanlah tujuan, melainkan hanyalah sarana,
untuk menolong agama Allah, meraih harapan yang lebih tinggi
selamat dan mulia di sisi- Nya.
Di akhirat nanti.


''Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu''. (Qs Muhammad ; 7)






Jumat, 01 Februari 2013

''WASIAT EMAS RASULULLAH SAW''

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.. (QS. al-Furqân: 63)
 
Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang bersikap tawadhu karena mencari ridho Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barang siapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya.Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi (HR. Al Baihaqi)

Inilah manusia Agung selalu berpihak dan sangat hormat kepada yang tua, duka menjenguk orang yang sakit, dan Mengasihani orang miskin.

Beliau bantu orang-orang yang lemah. Tidak segan bercengkrama dan  bergurau dengan anak-anak, Beliaupun suka bermain-main dengan keluarganya.

Beliau sudi berbincang dengan orang biasa yang terdapat di kalangan umat serta rakyat jelata. Beliau bersedia duduk di atas tanah. Tidur di atas pasir, bertilamkan tanah, dan beralaskan tikar kasar yang terbuat daripada pelapah kurma.

Beliau merasa puas dengan ketentuan Tuhannya. Beliau tidak pernah tamak terhadap kemasyhuran, kedudukan, atau jabatan yang menggiurkan atau tujuan-tujuan yang bersifat duniawi.
Beliau selalu tersenyum bila berjumpa para shahabatnya. Bila berjabatan tangan, beliau tidak hendak melepaskan sebelum sahabat itu melepaskan tangannya

Sahabat Abdurrahman Ibn Shakr yang lebih dikenal dengan Abu Hurairah r.a. bercerita: Suatu ketika aku masuk pasar bersama Rasulullah SAW. Rasulullah berhenti, membeli celana .
Mendengar suara Rasulullah SAW, si pedagang celanapun melompat mencium tangan beliau. Rasulullah menarik tangan beliau sambil bersabda: “ltu tindakan orang-orang asing terhadap raja mereka. Aku bukan raja, Aku hanyalah laki-laki biasa seperti kamu.” Kemudian, beliau ambil celana yang sudah beliau beli. Aku berniat akan membawakannya, tapi… Beliau buru-buru bersabda: ”Pemilik barang lebih berhak membawa barangnya.”

Dari ‘Umar bin al-Khaththab, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani memuji ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanya hamba-Nya maka katakanlah (tentang aku) hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari:VI/478)

Dari Sahabat Anas bin Malik ra. berkata: “Dahulu ada budak kecil perempuan dari penduduk Madinah meraih tangan Rasulullah saw, Lalu anak kecil itu mengajak beliau pergi ke mana saja ia suka.” (HR. Al-Bukhari:X/89, Fat-hul Baari, secara mu’alaq) dan (Muslim:XV/82-83, Syarh Muslim, Imam an-Nawawi)

Dari al-Aswad (bin Yazid), dia berkata: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah: “Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah saw di rumahnya? ‘Aisyah menjawab: Beliau biasa membantu pekerjaan keluarga, apabila mendengar suara adzan, beliau segera keluar (untuk menunaikan) shalat.” (HR. Al-Bukhari:II/162 Fat-hul Baari).

Manakala seseorang melihatnya gemetar karena karismanya, maka baginda berkata: “Tenangkanlah dirimu, sebab saya adalah anak seorang perempuan biasa yang memakan daging dendeng di Mekkah.”

Tidak ada seorangpun yang lebih mereka cintai daripada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Walaupun begitu, apabila mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri untuk menyambut beliau, karena mereka mengetahui bahwa beliau Shalallaahu alaihi wasalam tidak menyukai cara seperti itu. (HR. Ahmad)

Rasulullah saw bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, walaupun seberat biji sawi. (HR. Muslim).

Dalam sebuah kesempatan sahabat Abu Dzar a-Ghifffari r.a pernah bercakap-cakap dalam waktu yang cukup lama dengan Rasulullah S.a.w. Diantara isi percakapan tersebut adalah wasiat beliau kepadanya. Berikut petikannya ;


Aku berkata kepada Nabi S.a.w, “Ya Rasulullah, berwasiatlah kepadaku.” Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, karena ia adalah pokok segala urusan.” “Ya Rasulullah, tambahkanlah.” pintaku.


“Hendaklah engkau senantiasa membaca Al Qur`an dan berdzikir kepada Allah azza wa jalla, karena hal itu merupakan cahaya bagimu dibumi dan simpananmu dilangit.”

“Ya Rasulullah, tambahkanlah.” kataku.


“Janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tawa itu akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.”


“Lagi ya Rasulullah.”


“Hendaklah engkau pergi berjihad karena jihad adalah kependetaan ummatku.”


“Lagi ya Rasulullah.”


“Cintailah orang-orang miskin dan bergaullah dengan mereka.”


“Tambahilah lagi.”


“Katakanlah yang benar walaupun pahit akibatnya.”


“Tambahlah lagi untukku.”


“Hendaklah engkau sampaikan kepada manusia apa yang telah engkau ketahui dan mereka belum mendapatkan apa yang engkau sampaikan. Cukup sebagai kekurangan bagimu jika engkau tidak mengetahui apa yang telah diketahui manusia dan engkau membawa sesuatu yang telah mereka dapati (ketahui).”


Kemudian beliau memukulkan tangannya kedadaku seraya bersabda,”Wahai Abu Dzar, Tidaklah ada orang yang berakal sebagaimana orang yang mau bertadabbur (berfikir), tidak ada wara` sebagaimana orang yang menahan diri (dari keserakahan), tidaklah disebut interopeksi diri kalau seseorang kurang baik akhlaqnya.”


Itulah beberapa wasiat emas yang disampaikan Rasulullah S.a.w kepada salah seorang sahabat terdekatnya. Semoga kita dapat meresapi dan mengamalkan wasiat beliau. Wallahu A`lam.


Ya Rasulullah, Salam alaika

BAHAYA BAGI ''ORANG-ORANG YANG BANGKRUT''

Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah SAW bertanya , “ Tahukah kamu siapakah muflis (orang yang bangkrut) itu ?”. Para sahabat menjawab, “ Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan kami ialah orang yang kehabisan uang (dirham) dan barang.” 
 
Rasulullah saw bersabda, “ Sesungguhnya orang yang bangkrut di antara umatku ialah orang yang nanti di hari kiamat datang dengan membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat.

 
Di samping itu, dia juga benar-benar pernah mencaci maki si fulan ini, menuduh si fulan,  memakan harta si fulan ini,  menumpahkan darah si fulan ini, dan memukul si fulan ini.
Maka si fulan ini akan diberinya dari pahala kebaikan-kebaikan orang tersebut dan si fulan ini akan diberinya dari pahala kebaikan-kebaikannya.

 
Kemudian jika pahala kebaikan-kebaikannya itu telah habis sebelum mencukupi apa yang menjadi tanggungannya, maka dosa-dosa orang yang dizhalimi itu akan diambilnya untuk dipikulkan kepadanya, kemudian sesudah itu barulah dia dilempar ke dalam neraka. “ (HR: Muslim) 

  
Ada dialog menarik antara Rasulullah saw dengan para sahabat yang diriwayatkan Imam Muslim tentang muflis ( orang yang bangkrut). Para Sahabat menjawab pertanyaan Rasulullah SAW tentang  siapakah yang dimaksud dengan orang bangkrut itu?

Mereka berkata, “ Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan kami ialah orang yang kehabisan uang (dirham) dan barang. Itu persepsi umum, kalau orang yang bangkrut itu adalah orang yang kehilangan atau orang merugi sehingga kehabisan harta dan barangnya.

Rasulullah SAW menjelaskan sesungguhnya orang yang bangkrut di antara umatku ini ialah orang yang nanti di hari kiamat datang dengan membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat.

Di saat yang sama ia membawa dosa-dosa prilaku sosial (hablumminannas) yang ternyata mengakibatkan devisit pahala di akherat nanti. Dosa-dosa prilaku sosial (hablumminannas) tersebut seperti di bawah ini:

Pertama, mencaci maki orang lain. Bila seseorang mencaci-maki seseorang, biasanya akan keluarlah kata-kata yang tak senonoh dari mulutnya sehingga mengakibatkan hilangnya harga diri orang tersebut. Padahal, harga diri dalam Islam sangat dijunjung dan dimuliakan.

Apabila manusia merendahkan dan melecehkan harga diri seseorang, dia hakikatnya melampui otoritas Allah SWT.  Hanya Allahlah yang paling berhak merendahkan manusia yang menyekutukanNya.

Sebagaimana firman-Nya di surah Al-Ahzab ayat 19; ” Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan , kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati.

Apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan  amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Kedua, menuduh orang lain. Fitnah adalah amal paling buruk, karena fitnah lebih kejam dari pada membunuh. Firman Allah SWT pada surat Al Baqarah ayat 191, “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu ; dan fitnah  itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.’’

Ketiga, memakan harta orang lain. Ini perbuatan yang sangat merugikan pihak lain apalagi diambil dengan cara-cara yang kasar dan tanpa berperasaan termasuk prilaku korupsi, apalagi merampas harta anak yatim maka sangat besar murka Allah SWT.

Ini merupakan peringatan kepada para pengelola dana umat terutama harta anak yatim, sebagaimana firman Allah pada surat An-Nisa ayat 10. “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala .” 

Keempat,membunuh orang lain. Islam sangat memuliakan manusia sehingga nilai nyawa seseorang sangatlah besar di hadapan Allah SWT. Membunuh satu manusia sama dengan membunuh semua manusia di alam semesta.

Firman Allah SWT di surat Al Maidah ayat 52  yang artinya; “Oleh karena itu Kami tetapkan  bagi Bani Israil, barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu  membunuh orang lain , atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.’’

Kelima, memukul/menganiaya orang lain. Islam sangat menjunjung persahabatan dan persaudaraan antar sesama. Islam menolak pertikaian sehingga terjadi penganiayaan baik menghina maupun memukul fisik seseorang.

Allah saja tidak mau menganiaya hamba-hambaNya, kenapa manusia menganiaya yang lain sebagaimana firmanNya pada surat Ali Imran (3) ayat 108, “Itulah ayat-ayat Allah. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.”

Apabila seorang Mukmin melakukan kelima hal tersebut terhadap yang lain, kelak di akherat ia akan dituntut oleh  pihak-pihak yang dizhalimi.

Apabila orang tersebut memiliki pahala dari shalat, zakat, haji, dzikir dan yang lainnya, maka diambillah pahala tersebut untuk diberikan kepada pihak-pihak yang didzalimi. Bila pahalanya habis, maka dosa orang yang didzaliminya dilimpahkan kepadanya.

Pihak-pihak yang dilanggar tersebut bisa dari keluarga inti (suami,istri, dan anak), keluarga besar dan masyarakat secara umum yang bergantian mendatangi pihak yang melanggar untuk meminta pertanggung-jawabannya.

Wajar bila nanti di akherat banyak orang ahli ibadah (ibadah mahdhah) namun devisit pahala karena prilaku sosialnya (ibadah ghaira mahdhah/muamalah) yang buruk. Wallahu a’lam



Tak ingin bangkrut di akherat nanti ?
Ayo perbaiki ketaqwaan kita kepada Allah....
Memperbaiki hubungan dengan Allah dan perbaiki pula hubungan dengan sesama sesuai tuntunan syariat-Nya.

Semoga Allah memberikan kemudahan dan senantiasa  membimbing kita menuju ridho-Nya. aamiin