Jumat, 23 Maret 2012

DENGAN SYARI'AH, BISNIS SIAP LEPAS LANDAS

Anda pernah mengenal istilah BISNIS LING-LUNG? Hmm, atau pernah dengar BISNIS ALA MAFIA? Atau yang lebih seru lagi, yaitu BISNIS ROBIN HOOD? Supaya tidak penasaran, mari kita ulas satu persatu. Yang pertama adalah BISNIS LING-LUNG. Sebuah istilah yang digunakan untuk orang-orang yang menganggap bahwa “bisnis ya mbok bisnis aja, jangan pake urusan agama deh” … Lho kenapa tidak bisa sinergi?
Untuk segelintir orang penganut BISNIS LING-LUNG, sulit rasanya bisnis dengan agama dapat disatukan. “Bisnis adalah bisnis, kalau mau mengedepankan agama, jadi pendeta atau biarawan saja!”. Itulah makna dari BISNIS LING-LUNG yang mereka kategorikan kalau bisnis adalah salah satu aliran kiri, agama itu adalah aliran kanan.


Kedua, BISNIS ALA MAFIA. Namanya saja sudah mafia, mereka berbisnis dengan cara-cara duniawi, tidak segan-segan ber-KKN (Kolusi, Korupsi, Nepotisme) dan melakukan berbagai tindakan yang tidak etis lainnya. Mereka tidak malu lagi berbuat hal seperti itu, karena hampir sebagian besar pebisnis pernah melakukannya. Dan kalau tidak begitu, mereka dianggap bukan pebisnis sejati. Jadi segala cara dilakukan yang penting bisnisnya “laris manis tanjung kimpul, alias dagangan manis duitnya kumpul”.
Ketiga, BISNIS ROBIN HOOD. Bisnis dimana cara apapun boleh dilakukan, mulai dari menyuap, boleh menerima hasil korupsi, dan lain sebagainya tapi uangnya bermaksud disumbangkan lagi untuk kegiatan CSR-nya (Corporate Social Responsibility atau kegiatan-kegiatan kemanusian), dan atau setiap acara keagamaan, dengan maksud mencari simpati orang-orang banyak.
Waduh Bisnis opo mene? Meskipun banyak sekali variasi redaksi bahasa dan praktek-prakteknya, tentu para praktisi bisnis yang sudah berpengalaman minimal sudah pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bukan? Tentunya saat ini kita sepakat membangun sebuah pondasi yang kuat dan setidaknya bagi para businessman pemula bisa menghindari berbagai hal di atas dengan konsep yang Syar’i, sebagai berikut :
1. Menanamkan bahwasanya Allah SWT akan melihat hal apa saja yang kita lakukan
Tersirat jelas dalam salah satu ayat Al-Quran :
Dan katakanlah “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Attaubah 9 : 105)
2. Niat Ikhlas Bekerja/Berbisnis Karena Allah SWT
Hal ini berarti ketika bekerja/berbisnis kita harus selalu bersemangat karena Allah, sekali lagi niatan utamanya adalah karena Allah SWT, tidak ada yang lain. Karena hal ini sebagai kewajiban dari Allah yang harus dilakukan oleh setiap hamba.
‘Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu, terdapat satu dosa yang tidak dapat dihapuskan dengan shalat, puasa, haji dan umrah.’ Sahabat bertanya, ‘Apa yang dapat menghapuskannya wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Semangat dalam mencari rizki.’ (HR. Thabrani)
Bersemangatlah dan mulai aktivitas pekerjaan kita dengan dzikir kepada Allah.
3. Bersikap jujur dan amanah
Praktek jujur dan amanah dalam bekerja diantaranya adalah dengan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, tidak curang, objektif dalam memandang permasalahan, dll. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:
Seorang pebisnis yang jujur lagi dapat dipercaya, (kelak akan dikumpulkan) bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada’. (HR. Turmudzi)
4. Itqan, sungguh-sungguh dan profesional
Semulia apapun Visi dan Misi usaha kita, tidak akan selesai apabila tidak dikerjakan secara tuntas dan sungguh-sungguh, bekerja setengah-setengah dan sampai dengan tuntas menjadi ciri dan atau pembeda antara ummat yang taat dan tidak.
Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya. (HR. Tabrani)
Motivasi bekerja juga semakin membuat kita berbisnis dengan penuh harapan kepada Allah, seperti yang dijanjikan Allah SWT pada hadits berikut :
Barang siapa yang sore hari duduk kelelahan lantaran pekerjaan yang telah dilakukannya, maka ia dapatkan sore hari tersebut dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. (HR. Thabrani)
5. Selalu menjaga etika sebagai seorang muslim
Pepatah mengatakan, teko akan mengeluarkan jenis air sesuai isinya. Tata krama yang keluar dari mulut kita adalah cerminan dari siapa diri kita, begitu juga dengan bisnis. Konsep muamalah yang ditawarkan Rasulullah adalah Bisnis syar’i sesuai ajaran Islam yang penuh keberkahan, dalam bekerja pun juga harus memperhatikan adab dan etika sebagai seroang muslim, seperti etika dalam berbicara, menegur, berpakaian, bergaul, berhadapan dengan para pelanggan, rapat, dan sebagainya. Bahkan akhlak atau etika ini merupakan ciri kesempurnaan iman seorang mu’min. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
Sesempurna-sempurnanya keimanan seorang mu’min adalah yang paling baik akhlaknya (HR. Turmudzi)
6. Tidak melanggar prinsip-prinsip syariah
Aspek lain dalam etika bekerja dalam Islam adalah tidak boleh melanggar prinsip-prinsip syariah dalam pekerjaan yang dilakukannya. Semisal dari sisi dzat atau substansi dari pekerjaannya, seperti memporduksi tidak boleh barang yang haram, menyebarluaskan kefasadan (seperti pornografi), mengandung unsur riba, maysir, gharar dsb. ataupun dari sisi penunjang yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan, seperti membuat fitnah dalam persaingan, tidak menutup aurat, dsb.
Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (QS. Muhammad, 47 : 33)
7. Menghindari syubhat
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Halal itu jelas dan haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat. Maka barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat, maka ia terjerumus pada yang diharamkan…” (HR. Muslim)
Adanya syubhat dalam bisnis atau sesuatu yang meragukan dan samar antara kehalalan dengan keharamannya. Seperti seperti bekerja sama dengan pihak-pihak yang secara umum diketahui kedzliman atau pelanggarannya terhadap syariah, dsb.
8. Menjaga silaturahmi (Ukhuwah Islamiyah)
Menjaga perasaaan orang lain, tidak saling curiga, su’udzon, dsb adalah sesuatu hal yang tidak dibenarkan dalam Islam, karena hal ini dapat merusak silaturahmi, terlebih mengenai bisnis yang sensitif berkaitan dengan uang dan kepercayaan
Prinsip di atas adalah beberapa konsep yang harus segera dipraktekan untuk menjadikan bisnis yang sehat dan apapun bisnisnya (asal syar’i) pasti siap lepas landas meski tidak harus bermodal segudang pengalaman berbisnis. Modalnya cukup punya Visi dan Misi diatas ditambah selalu ikhtiar dan istiqomah, Insya Allah pasti mendapat cintanya Allah dan hanya tinggal menunggu waktu untuk mencapai kesuksesan yang dijanjikan Allah SWT. Dalam sebuah riwayat dikemukakan bahwa, “Pada suatu saat, Saad bin Muadz Al-Anshari berkisah bahwa ketika Nabi Muhammad SAW baru kembali dari Perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa’ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengatan matahari. Rasulullah bertanya, ‘Kenapa tanganmu?’ Saad menjawab, ‘Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku.” Kemudian Rasulullah SAW mengambil tangan Saad dan menciumnya seraya berkata, ‘Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka’” (HR. Tabrani)
So, kenapa harus pakai bisnis cara konvensional kalau ada konsep bisnis menjanjikan yang bergaransi langsung dari Allah?

sumber: http://pengusaharindusyariah.com/wirausaha/232-bisnis-yang-siap-lepas-landas-.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar