Selasa, 25 September 2012

''WARA'' CERMIN PRIBADI TAQWA

Dinwayatkan oleh Abu Dzar al Ghiffary, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Sebagian dari kebaikan tindakan keislaman seseorang adalah bahwa ia menjauhi segala sesuatu yang tidak berarti.” (H.r. Malik bin Anas, Tirmidzi dan Ibnu Majah).


Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, “Wara’ adalah meninggalkan apa pun yang syubhat.” Demikian pula, Ibrahim bin Adham memberikan penjelasan, “Wara’ adalah meninggalkan segala sesuatu yang meragukan, segala sesuatu yang tidak berarti, dan apapun yang berlebihan.”

Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. berkata, “Kami dahulu tujuh puluh perkara yang termasuk ke dalam hal-hal yang dihalalkan, karena khawatir terjerumus ke dalam satu hal yang haram.”


Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, bahwa Nabi saw. bersabda:
“Bersikaplah wara’, dan kamu akan menjadi orang yang paling taat beribadat di antara ummat manusia.” (H.r. Ibnu Majah, Thabrani dan Baihaqi).


As-Sary berkata, “Terdapat empat orang yang wara’ di zaman mereka: Hudzaifah al-Murta’isy, Yusuf bin Asbat, Ibrahim bin Adham dan Sulaiman al-Khawwas. Mereka bersikap wara’, dan apabila usaha untuk mendapatkan sesuatu yang halal begitu sulit bagi mereka, mereka mencarinya seminimal mungkin.”


Asy-Syibly berkomentar, “Wara’ adalah sikap menjauhi segala sesuatu selain Allah swt.”


Ishaq bin Khalaf mengatakan, “Wara’ dalam bicara lebih sulit ketimbang menjauhi emas dan perak, dan zuhud dari kekuasaan lebih sulit ketimbang menyerahkan emas dan perak, karena Anda siap mengorbankan emas dan perak demi kekuasaan.”

Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan, “Wara’ adalah titik tolak zuhud, sebagaimana sikap puas terhadap apa yang ada adalah bagian utama dari ridha. “


Abu Utsman mengatakan, “Pahala bagi wara’ adalah kemudahan penghitungan amal di akhirat.” Yahya bin Mu’adz berkata, “Wara’ adalah berpangku pada batas ilmu tanpa menakwilkannya.”


Dikatakan, “Sekeping uang logam kecil milik Abdullah bin Marwan jatuh ke dalam sebuah sumur yang berisi kotoran, lalu ia meminta bantuan seseorang untuk mengambilnya dengan membayarnya tigabelas dinar. Ketika seseorang bertanya kepadanya, ia memberikan penjelasan, ‘Nama Allah swt. tertera pada uang itu’.”

Yahya bin Mu’adz menegaskan, “Ada dua jenis wara’: Wara’ dalam pengertian dzahir, yaitu sikap yang mengisyaratkan bahwa tidak ada satu tindakan pun selain karena Allah swt, dan wara’ dalam pengertian batin, yaitu sikap yang mengisyaratkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang memasuki hati Anda kecuali Allah swt.”
Ia juga berkata, “Orang yang tidak memeriksa dan memahami seluk beluk wara’ tidak akan mendapatkan anugerah.”
Dikatakan, “Orang yang pandangannya atas agama jeli, akan memperoleh peringkat yang tinggi di Hari Kebangkitan.”


Yunus bin Ubaid mengatakan, “Wara’ berarti keluar dari segala syubhat, dan merefleksikan diri dalam setiap pandangan.”


Sufyan ats-Tsaury berkomentar, “Aku belum pernah melihat sesuatu yang mudah selain wara’. Apa pun yang diinginkan oleh hawa nafsu Anda, tinggalkanlah!.”


Ma’ruf al-Karkhy mengajarkan, “Jagalah lidah Anda dari pujian, sebagaimana Anda menjaganya dari cacian.”


Bisyr ibnul Harits berkata, “Hal-hal paling sulit untuk dilaksanakan ada tiga: Dermawan di masa masa sulit, wara’ adalah khalwat, dan menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang Anda takuti dan Anda jadikan harapan.”

Saudara wanita Bisyr al-Hafi mengunjuingi Ahmad bin Hanbal dan memberitahukan kepadanya, “Kami sedang memintal di atas atap rumah, ketika obor kaum Dzahiriyah berlalu dan cahayanya menyinari kami. Apakah diperbolehkan bagi kami memintal di dekat cahaya mereka?” Ahmad bertanya, “Siapakah Anda, (semoga Allah menjaga kesehatanAnda)?” Ia menjawab, “Saya adalah saudara wanita Bisyr al Hafi.” Ahmad menangis, lalu berkata, Wara’ yang jujur muncul dari keluarga Anda. Jangan memintal di dekat cahaya itu!”


Ali al-’Atthar berkata, “Suatu ketika aku sedang berjalan melewati Bashrah melintasi sebuah jalan, dan aku melihat beberapa orang syeikh sedang duduk, sementara beberapa pemuda bermain di dekatnya. Oleh karena itu, aku bertanya kepada mereka, ‘Apakah Anda sekalian tidak malu bermain di depan Syeikh syeikh ini?’ Salah seorang pemuda tersebut menjawab, ‘Wara’ para syeikh ini demikian kecil hingga kami memandang kecil mereka’.”

Dikatakan, bahwa Malik bin Dinar tinggal di Bashrah selama empat puluh tahun, ia tidak pernah memakan kurma kering maupun yang masih segar dari kota tersebut. Sampai saat musim berlalu, ia berkata, “Wahai penduduk Bashrah, inilah perutku, tidak kurang juga tidak pernah bertambah!”

Seseorang bertanya kepada Ibrahim bin Adham, “Mengapa Anda tidak minum Zamzam?” Ia menjawab, “Apabila aku mempunyai timba, aku akan meminumnya.” Apabila al-Harits al-Muhasiby mengambil makanan yang syubhat, maka urat di ujung jarinya berdenyut, dan ia menganggap bahwa makanan tersebut syubhat.

Suatu ketika Bisyr al-Hafi diundang ke jamuan makan, dan dihidangkan makanan di depannya. Ia hendak menyantap makanan itu, tetapi tangannya tidak dapat digerakkan. Ia berusaha menggeraknya hingga tiga kali. Seseorang yang akrab dengan situasi ini mengatakan, “Tangannya tidak pernah mengambil makanan yang syubhat. Percuma saja tuan mengundang syeikh ini.”

Ketika Sahl bin Abdullah ditanya tentang halal yang murni, ia menjawab, “Yaitu yang di dalamnya tidak pernah dicampuri maksiat kepada Allah swt. Dan halal yang murni adalah yang Allah tidak dilupakan di dalamnya.”

Hasan al-Bashry memasuki Mekkah, la melihat salah seorang keturunan Ali bin Abu Thalib r.a. bersandar ke Ka’bah dan berceramah di hadapan sekumpulan orang. Hasan bergegas menghampirinya, lalu bertanya, “Siapakah yang menguasai agama-agama?” Ia menjawab, “Orang wara’.” Hasan bertanya lagi, “Apakah yang merusak agama.” Ia menjawab, “Keserakahan.” Maka Hasan mengaguminya, seraya berkata, “Bobot sebutir wara’ yang cacat adalah lebih baik ketimbang bobot seribu hari berpuasa dan shalat.”

Abu Hurairah mengatakan, “Sahabat sahabat dalam majelis Allah swt. di akhirat adalah orang orang yang wara’ dan zuhud.”
Sahl bin Abdullah berkata, “Apabila wara’ tidak menyertai seseorang, la tidak akan pernah merasa kenyang, sekalipun diwajibkan baginya makan kepala gajah.”


Sedikit minyak kasturi yang berasal dari rampasan perang dibawa ke hadapan Umar bin Abdul Aziz. Katanya, “Manfaat satu satunya adalah aroma keharumannya, dan aku tidak ingin hanya diriku sendiri yang mencium aromanya, sementara seluruh kaum Muslim tidak berbagi membauinya.”

Ketika ditanya tentang wara’, Abu Utsman al-Hiry berkata, “Abu Shalih Hamdun al-Qashshar berada bersama salah seorang sahabatnya yang sedang menjelang maut. Orang tersebut meninggal, dan Abu Shalih memadamkan lampu. Seseorang bertanya kepadanya tentang hal ini, lalu ia mengatakan, “Sampai sekarang minyak yang di dalam lampu ini menjadi milik para ahli warisnya. Carilah minyak yang bukan miliknya!”


Hamisan berkata, ‘Aku meratapi dosaku selama empat puluh tahun. Salah seorang saudara mengunjungiku, dan kubelikan sepotong ikan rebus untuknya. Ketika ia selesai memakannya, aku mengambil sebongkah lempung dinding milik tetanggaku, sampai ia dapat membersihkan tangannya, dan aku belum meminta halalnya.”

Seseorang sedang menulis suatu catatan saat ia tinggal di sebuah rumah sewa dan ingin mengeringkan tulisannya dengan debu yang dapat diperoleh dari dinding rumah tersebut. Ia teringat bahwa rumah yang ditempatinya adalah rumah sewa, akan tetapi ia berpendapat bahwa hal itu tidaklah penting. Karenanya, ia pun mengeringkan tulisan tersebut dengan debu. Kemudian ia mendengar sebuah suara mengatakan, “Orang meremehkan debu akan melihat betapa lama perhitungan amalnya kelak.”

Ahmad bin Hanbal (semoga Allah melimpahkan kasih-sayang kepadanya) menggadaikan sebuah ember kepada seorang penjual bahan makanan di Mekkah. Ketika ingin menebusnya, penjual bahan makanan tersebut mengeluarkan dua ember, sembari mengatakan, “Ambillah, yang mana ember milik Anda?” Ahmad menjawab, “Saya ragu. Oleh karena itu, simpan saja, baik kedua ember maupun uang itu untuk Anda!” Penjual bahan makanan tersebut memberitahu, “Inilah ember Anda. Saya hanya ingin menguji Anda.” Ahmad menyahut, “Saya tidak akan mengambilnya,” lalu pergi, dengan meninggalkan ember kepunyaannya kepada si penjual bahan makanan.

Sayyab Ibnul Mubarak membiarkan kudanya yang mahal berkeliaran dengan bebas ketika ia sedang melakukan shalat dzuhur. Kuda tersebut merumput di ladang milik kepala desa. Akhirnya, Ibnul Mubarak meninggalkan kuda tersebut dengan tidak mengendarainya. Dikatakan bahwa Ibnul Mubarak suatu ketika pergi pulang dari Marw ke Syria, gara-gara telah meminjam sebuah pena dan lupa mengembalikannya.

An-Nakha’y menyewa seekor kuda. Ketika cambuknya terlepas dari tangan dan jatuh, ia pun turun, seraya mengikat kudanya, dan berjalan untuk memungut cambuk itu. Seseorang berkomentar, “Akan lebih mudah seandainya Anda mengendalikan kuda Anda menuju tempat di mana cambuk itu jatuh dan kemudian mengambilnya.” An-Nakha’y menyahut, “Aku menyewa kuda itu untuk pergi ke arah sana, bukan ke sini.”

Abu Bakr ad-Daqqaq berkata, “Aku berkelana di padang belantara bani Israil selama limabelas hari, dan ketika tiba di sebuah jalan, seorang prajurit menemuiku dan memberi seteguk air minum. Air itu menumbuhkan penderitaan dalam hatiku, dan aku menderita selama tigapuluh tahun.”

Rabi’ah al-Adawiyah menjahit bajunya yang sobek di dekat lampu sultan, tiba tiba ia tersentak dan kemudian sadar. Maka, Rabi’ah pun menyobek pakaiannya, dan menemukan hatinya.

Sufyan ats Tsaury suatu ketika bermimpi mempunyai sepasang sayap yang dapat digunakan untuk terbang di surga. Kemudian ia ditanya, “Dengan apa hingga Anda dianugerahi ini?” Dijawabnya, “Wara’. “

Ketika Hissan bin Abi Sinan menghampiri murid murid al-Hasan, ia bertanya, “Hal apakah yang paling sulit bagi Anda?” Mereka menjawab, “Wara’.” Ia berkata, “Tidak ada sesuatu yang paling mudah bagiku selain ini (wara’).” Mereka bertanya, “Mengapa demikian?” Hissan bin Abi Sinan menanggapi, “Aku belum pernah minum air dari mata air milik Anda semua selama empatpuluh tahun.”


Hissan bin Abi Sinan tidak tidur terlentang atau makan makanan berlemak atau minum air dingin selama enampuluh tahun. Seseorang bermimpi bertemu dengan Hissan bin Abi Sinan, lalu bertanya kepadanya tentang apa yang telah Allah lakukan atas dirinya. Dijelaskan oleh Hissan bin Abi Sinan, “Baik, kecuali bahwa pintu surga tertutup bagiku, karena jarum yang pernah kupinjam belum kukembalikan.”

Abdul Wahid bin Zaid mempunyai seorang pembantu rumah tangga yang bekerja kepadanya selama bertahun tahun dan beribadat secara khusyu’ selama empatpuluh tahun. Sebelumnya ia adalah seorang penimbang gandum. Dan ketika ia meninggal, seseorang bermimpi bertemu dengannya. Ditanya tentang apa yang telah Allah lakukan atas dirinya? Dijawabnya, “Baik, kecuali bahwa aku dihalang, memasuki pintu. surga, disebabkan oleh debu pada timbangan gandum yang dengannya aku menimbang empatpuluh porsi gandum.”

Ketika Isa putra Maryam as. melewati sebuah makam, seseorang berteriak dari dalam kuburnya. Allah swt. menghidupkannya kembali, dan Isa bertanya kepadanya, “Siapakah Anda?” Ia menjawab, “Aku adalah seorang kuli, dan pada suatu hari, saat aku mengantarkan kayu bakar untuk seseorang, aku mematahkan sepotong kayu kecil. Sejak aku meninggal, aku dianggap bertanggungjawab atas hal itu.”

Abu Sa’id al-Kharraz berbicara tentang wara’, ketika Abbas bin al-Muhtadi berlalu di hadapannya. Ia bertanya, “Wahai Abu Sa’id, apakah Anda tidak mempunyai rasa malu? Anda duduk di bawah atap Abu ad-Dawaniq, minum dari penampungan air Zubaydah, berniaga dengan riba, tetapi berbicara tentang wara.



Subhanallah,,
semoga Allah menumbuhkan kesadaran dalam diri kita....tentang kesempunaan beribadah kepada-Nya.
sehingga memiliki sikap ''wara'' dalam menjalani hidup ini.




Sumber: http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/wara.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar