Sabtu, 24 Desember 2011

PENGABDIAN YANG SEMPURNA

KARENA TERLAMBAT MENGHADAP MAKA ENGKAU TERLEWATKAN

لَا تَسْتَبْطِئْ مِنْهُ النَّوَالَ وَلَكِنِ اسْتَبْطِئْ مِنْ نَفْسِكَ وُجُوْدَ الْإِقْبَالِ

Jangan engkau merasa karunia Allah terlambat datang kepadamu, akan tetapi hendaklah engkau merasa terlambat menghadap kepada-Nya.
Meskipun pelaksanaan ibadah terkadang dijadikan wahana oleh orang beriman untuk melahirkan rasa syukur atas segala karunia, tidak hanya dijadikan alat untuk menuntut dan meminta saja, namun demikian, jika ada seorang hamba yang beribadah dan di dalamnya juga berharap mendapatkan tambahan rahmat dan karunia dari Allah SWT., hal tersebut tidak berarti tercela, tetapi bahkan termasuk bagian ruh ibadah pula. Sebab, seorang hamba yang baik adalah yang merasa fakir kepada Tuhannya. Allah menyatakan hal itu dengan firmanNya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji”. (QS.Fathir(35)15)
Seorang  hamba beribadah kepada Allah Taala, baik dengan melaksanakan sholat maupun berdzikir, dengan itu dia boleh sekaligus berdo’a dan berharap mendapatkan rizki dariNya, namun seharusnya yang diharapkan itu bukan hanya rizki duniawi saja, tetapi juga rizki yang mampu menjadi sarana untuk meningkatkan ibadah. Mengapa demikian ??, karena rizki duniawi tersebut sesungguhnya sudah disiapkan Allah bagi setiap makhlukNya tanpa kecuali, meskipun cara mendapatkannya harus dengan usaha dan bersungguh-sungguh. Manusia boleh berusaha untuk mendapatkan rizkinya, namun tanpa kehendak dan kemudahan dariNya, usaha tersebut tidak mungkin dapat membuahkan hasil.
Sesuai hikmah penciptaannya, manusia harus mengabdi. Oleh karena itu, sepanjang hidupnya manusia harus melakukan pengabdian hakiki kepada Allah SWT., Dzat yang mencipta-kannya. Berarti, setiap detak jantung dan nafas yang ditarik dan dihembuskan didalamnya harus diisi dengan nilai pengabdian hakiki, namun itu tidak dalam arti harus melaksanakan sholat dan dzikir secara terus-menerus.
Mengabdi kepada Allah bisa dilakukan dengan cara apa saja dan dimana saja. Orang mencari rizki, baik dengan berdagang di pasar maupun bekerja di kantor, apabila niatnya untuk mencari sarana pengabdian, maka usaha itu termasuk bagian dari pengabdian pula. Namun itu dengan syarat, manakala di dalam usaha itu tidak dicampuri perbuatan maksiat kepada Allah dan rasulNya. Himah penciptaan manusia itu dinyatakan Allah dengan firmanNya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan  Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (Adz-Dzariaat(51)56-58)
Dalam pengabdian yang harus dilakukan oleh manusia, bukan berarti Allah membutuhkan rizki dari manusia tetapi sebaliknya. Dengan pengabdian itu Allah yang Mempunyai kekuatan yang Kokoh akan memberi rizki yang baik kepada manusia, bahkan akan memberikan kehidupan yang baik dan pahala besar bagi orang beriman dan beramal sholeh baik laki-laki maupun perempuan. Allah menyatakan dengan firmanNya:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.(QS.an-Nahl(16)97)
Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”.(QS.Thoha(20)132)
Secara khusus ayat ini ditujukan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. namun secara umum ditujukan untuk umatnya. Firman Allah di atas: لا نسألك رزقا نحن نرزقك yang artinya: “Kami(Allah) tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu”. Maksud ayat, apabila engkau mengerjakan sholat maka rizki akan didatangkan kepadamu dari arah yang tidak engkau kira-kira, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”.(QS.ath-Tholak(65)2-3)
Dalam sabdanya yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah ra. Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW. bersabda:
” يقول الله تعالى يا ابن آدم تفرغ لعبادتي أملأ صدرك غنى وأسد فقرك وإن لم تفعل ملأت صدرك شغلا ولم أسد فقرك “
“Allah berfirman(hadits qudsi): Hai anak Adam, tunaikanlah kuwajibanmu mengabdi kepadaKu, niscaya dadamu akan dipenuhi dengan rasa kecukupan dan kebutuhannmu tercukupi. Jika tidak engkau lakukan itu, maka  dadamu akan dipenuhi dengan kesibukan dan kebutuhanmu tidak tercukupi”.
Diriwayatkan lagi dari Zaid bin Tsabit berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda:
من كانت الدنيا همه فرق الله عليه أمره وجعل فقره بين عينيه ولم يأته من الدنيا إلا ما كتب له ومن كانت الآخرة نيته جمع له أمره وجعل غناه في قلبه وأتته الدنيا وهي راغمة “
“Barangsiapa cita-citanya hanya sebatas kehidupan di dunia, maka Allah akan memisah-misahkan urusannya dan dijadikan kebutuhan hidupnya selalu terbayang di pelupuk matanya, dan tidak didatangkan bagian dunia kecuali yang sudah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa cita-cita hidupnya kehidupan akhirat, maka Allah akan mengumpulkan segala urusannya dan dijadikan hatinya selalu merasa cukup dan didatangkan dunia dalam keadaan mencari kepada dirinya”.(Dari Tafsir Ibnu Katsir. QS.Thoha/132)
Firman Allah SWT. dan sabda Nabi SAW. di atas adalah janji-janji Allah yang tidak akan teringkari untuk selama-lamanya. Merupakan hukum sebab akibat yang sudah ditetapkan sejak zaman azali. Barangsiapa mampu membangun sebab dengan sempurna maka akibatnya akan didatangkan dengan sempurna pula. Maksudnya, orang yang mampu melaksanakan pengabdian kepada Allah dengan sempurna, mereka akan mendapatkan kehidupan secara sempurna pula. Dalam arti rongga dadanya akan dipenuhi kelapangan dan kebutuhan hidupnya akan tercukupi.
PENGABDIAN YANG SEMPURNA.
Seseorang mampu mengabdian kepada orang lain dengan sempurna misalnya, hal itu bergantung bagaimana kuatnya cinta orang tersebut kepada yang dicintai. Pengabdian yang sempurna itu bisa dilakukan apabila dia tidak mengharapkan sesuatu dari orang tersebut kecuali cinta dan ridhonya. Maka, seorang hamba yang baik adalah orang yang tidak mempunyai keinginan dari Tuhannya, kecuali ridhoNya. Tujuan ibadah yang lain, meskipun itu surga, oleh karena dia tidak mempunyai keinginan maka dia tidak ingin milikannya. Dia mengabdi bukan karena mengharapkan balasan, tetapi semata-mata dorongan rasa cinta yang mendalam.
Orang yang dalam hatinya terdapat rasa pemilikan, seperti kepada harta benda, keluarga dan kehormatan, terlebih apabila pemilikan itu dicintai, meskipun kelihatannya dia melaksana-kan ibadah kepada Allah SWT. tiada henti, sesungguhnya  ujung-ujungnya pasti akan tertuju kepada sesuatu yang ingin dimiliki tersebut. Mereka beribadah semata-mata supaya segala pemilikannya langgeng. Mereka hanya berharap mendapatkan kebahagiaan yang abadi baik di dunia maupun  di surga nanti. Orang yang seperti itu, meskipun dia telah mampu melaksanakan kewajiban agamanya secara sempurna, yang pasti dia tidak dapat melaksana-kan pengabdian kepada Tuhannya secara sempurna. Hal itu disebabkan, karena sesungguhnya orang tersebut bukan hamba Allah tetapi hamba pemilikannya sendiri, bahkan termasuk orang yang berlebih-lebihan atau fasik. Allah SWT. menyatakan hal tersebut dengan firmanNya:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(QS.at-Taubah(9)24)
Bagi orang yang mencintai, pasti dia ingin mengabdi kepada orang yang dicintai. Oleh karena itu, apabila orang yang mencintai itu harus meminta kepada orang yang dicintai, maka dia akan meminta sesuatu yang dapat digunakan untuk mengabdi. Jadi hakekat pengabdian kepada Allah itu terkait erat dengan rasa pemilikan dalam hati seorang hamba terhadap harta benda yang sudah didapatkan. Selama rasa pemilikan itu ada, berarti tidak mungkin seorang hamba dapat melaksanakan pengabdian hakiki kepada Tuhannya, bahkan sebaliknya, dia pasti akan mengabdi kepada harta benda yang dicintai itu.
Oleh karena itu, seringkali seorang hamba sudah beribadah dengan sungguh-sungguh, namun ternyata kehidupannya masih saja dalam keadaan sangat kekurangan. Bahkan untuk makan setiap hari saja mereka sangat kesulitan. Hal demikian itu bukan berarti Allah ingkar janji, namun barangkali dalam ibadah itu ada niat yang harus dibenahi. Oleh karena dalam membangun sebab dasarnya salah, maka akibat yang akan didapatkan juga akan  menjadi berbeda. Orang yang berdo’a kepada Allah supaya mendapatkan rizki tetapi semata-mata karena dia mengingikan rizki itu, bukan dengan rizki itu supaya dia dapat mengabdi, maka orang tersebut sejatinya bukan hamba Allah tetapi hamba rizki yang diharapkan itu. Ibadah dan pengabdian itu hanya dijadikan sarana supaya kemauan nafsu syahwatnya tercukupi.
Apabila seorang salik sudah berupaya mendapatkan karunia dengan sungguh-sungguh, namun yang diharapkan itu ternyata belum juga kunjung datang, maka hendaklah mereka tidak patah semangat. Barangkali cara untuk mendapatkan karunia itu ada yang perlu diteliti kembali: “Jangan engkau merasa karunia Allah terlambat datang kepadamu, akan tetapi hendaklah engkau merasa terlambat menghadap kepada-Nya”
(malfiali)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar