Kamis, 08 Desember 2011

HATI YANG PALING JAUH DARI ALLAH



Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya di dalam hati terdapat ruang kosong dan kekurangan yang tak dapat diisi oleh suatupun kecuali Allah, terdapat sesuatu yang kusut yang tidak dapat diurai kecuali dengan pendekatan diri kepada Allah, terdapat penyakit yang tak dapat disembuhkan selain dengan sikap ikhlas dan beribadah hanya kepada-Nya. Tidaklah seorang hamba dihukum dengan sesuatu yang lebih berat dari kekerasan hati dan keterjauhan dari Allah. Sungguh api itu diciptakan untuk melunakkan hati yang kasar. Sesungguhnya hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras, dan sebagaimana  diketahui, bilamana hati telah mengeras, maka air mata sulit mengalir dan mata menjadi kering (Tidak mudah menangis). Ia terasa berat mengalirkan air mata baik di saat berdzikir, takut kepada Allah ataupun ketika tunduk bersimpuh di hadapan Allah.
Barangsiapa menghendaki hatinya bersih hendaklah ia lebih mementingkan Allah Ta’ala daripada memenuhi tuntutan syahwatnya, sebab hati yang senantiasa berlumuran maksiat terhalang dari cahaya Allah sesuai kadar keterkaitanya dengan syahwat tersebut. Hati adalah bejana-bejana Allah di atas bumi-Nya, dan yang paling disukai-Nya adalah  hati yang paling jernih dan lembut.” (Lihat kitab ‘Al-Fawaid’ hal. 128).
Betapa banyak telinga hati telah mendengar nasehat dan petuah, juga santapan ruhani dari para penasehat pagi dan petang, akan tetapi tidak juga ia mampu meresponnya bahkan kukuh dalam kekerasannya… ayat-ayat al-Qur’an yang sampai kepadanya hanya menambah kekerasan, keangkuhan dan kegersangannya… seakan pada pintunya dibentangkan pintu besi sehingga menghalangi kebenaran dan sejuknya dzikir  yang sampai pada pemilik.
Benarlah apa yang diucapkan seorang penyair:
Dzikir menghidupkan hati
Laksana hujan yang menghidupkan bumi  kering
Dzikir, selamanya tiada berguna bagi hati-hati yang keras
Apakah batu bisa melunak kala mendengar ucapan penasehat
Sebagian manusia mampu merinding ketika mendengarkan nasehat dan dapat terpengaruhi jiwanya saat menyimak peringatan, akan tetapi, hal itu hanya sesaat. Perasaan itu sudah hilang ketika ia beranjak dari majlis nasehat dan waktu ia bangun dari mendengar peringatan itu. Akhirnya, ia seakan sama sekali tidak pernah mendengar nasehat apapun, dan peringatan yang baru saja ia dengar sama sekali tidak meninggalkan atau membekaskan pengaruh dan kesan… bagi orang demikian tepatlah ucapan Malik Bin Dinar: “Apabila fisik sakit, maka makanan, minuman dan bahkan sesungguhnya , istirahatnyapun tidak berguna.” Begitu pula, jika hati yang telah mabuk dunia, nasehat apapun tiada berguna baginya. Ia tertipu dan terpedaya dengan kesehatan fisik dan limpahan harta benda yang dimiliki. Ia mengira dirinya dalam kondisi baik baik saja, tak ada masalah, baik baik dan bahkan tak ada sanksi yang menghadangnya. Ia tidak mengetahui ketertipuan dan keterlenaannya, juga perubahan hatinya yang menjadi keras adalah sebesar besar bencana yang menimpanya, sedang ia tidak menyadari itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar